Pernah nggak sih kamu berselisih paham dengan orang tua? Kesal karena tingkah mereka yang kadang menurut kita kekanak-kanakkan. Marah karena mereka nggak memenuhi apa yang kita mau. Kecewa karena menurut kita mereka tidak seperti yang kita harap. Sedih saat mereka tak mau mendengarkan kita.

Coba sekarang kita balik posisinya.

Apa sempat terpikir oleh kita seberapa sering kita menyakiti mereka? Mungkin kita tak sadar. Dari luar mereka mungkin tak terlihat menanggung perih tapi tak menutup kemungkinan hati mereka sakit, sedih mengapa anak yang mereka lahirkan tak tahu balas budi. Mereka memang tak mengharap balasan, tapi mereka tentu kecewa dan berpikir ulang terus menerus 'Apakah kami berdua salah dalam mendidik anak kami?'.

Apa kalian sering berpikir mereka tidak menyayangi kalian? Hingga membuat kalian ingin pergi dari rumah, meninggalkan mereka.
Padahal, apa kurang cukup banyak perbuatan yang mencerminkan betapa mereka menyayangi kalian?
Coba ingat-ingat, renungkan. Resapi dan pahami dengan hati.

Orang tua kalian diberi titipan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Kurang lebih kalian dikandung selama sembilan bulan oleh ibu. Itu bukan waktu yang sebentar. Selama itulah ibu membawamu ke mana-mana. Berat tentu. Dengan susah payah menjagamu agar tak terluka bahkan meninggal dalam kandungan. Tiap ibumu makan, selalu dibagi denganmu. Ibu dan ayah memperdengarkanmu lantunan lembut dan suci karena mereka berharap kelak kau akan menjadi anak baik yang berada di jalan lurus.

Saat kamu akan lahir, air ketuban ibu pecah, semua orang panik. Ibu, ayah, dan sanak saudaramu. Mereka segera ke rumah sakit. Tak terbayang betapa sakit yang dirasa ibumu saat proses melahirkan berlangsung. Ia berada di antara hidup dan mati. Akhirnya setelah perjuangan mati-matian itu, engkau berhasil keluar. Ibumu yang masih lemah dan berlumuran darah itu tersenyum menatapmu. Kamu yang masih suci, belum ternoda dosa.

Ibu dan ayah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Mengajarkanmu yang belum tahu apa-apa menjadi tahu sedikit demi sedikit. Mereka tekun mengajarimu mengenal dunia, tak kunjung lelah walau kau sering mengisyaratkan tak mau. Kau diajak melihat pekerjaan mereka, duduk ditepi saat ibu membuat kue. Akhirnya kau juga diajak bergabung untuk membantu, mulai dari hal kecil yang bisa kau lakukan saat itu.
Mereka mengajarkanmu tata krama dan sopan santun. Bagaimana sikap yang harus kau tunjukkan pada orang yang lebih tua, juga pada sesama yang lain. Mereka mengajarimu pelajaran dasar membaca, menulis, serta berhitung.

Ayah bekerja untuk membiayai kamu dan ibu. Supaya kalian berdua bisa memakan makanan bergizi. Juga untuk biaya sekolahmu yang kian hari kian mahal.
Ayah bekerja sepanjang hari, begitu pulang ke rumah sudah merasa sangat lelah. Tapi kita begitu tak tahu diri. Malah merengek minta dibelikan ini itu segera. Menambah beban pikirannya saja. Kita tak pernah coba untuk memikirkan kehidupan kerja ayah. Mungkin kita tak tahu ia sedang banyak masalah, bisnisnya gagal, ia berhutang besar, dan bisa saja ia dikejar penagih hutang. Kita tak tahu apa-apa. Hal-hal seperti itu sangat membebaninya. Menambah potensi terkena berbagai penyakit, apalagi usianya bertambah tua.
Kita tak suka mendengar ia marah-marah. Tapi apa kita tak terpikir itu karena pekerjaannya? Kita mungkin bisa membantu meringankan bebannya, dengan selalu memberi senyuman tulus, tawaran untuk bercerita tentang masalah beliau. Bisa saja kita bisa menemukan solusinya. Rasanya, bila masalah disimpan sendiri, bisa berbahaya akibatnya.

Ibu dan ayah selalu berpesan agar kamu menjadi anak baik, pintar, dan tentunya rajin beribadah. Itu bukan untuk mereka semata, tapi lebih untuk diri kita sendiri. Kenapa kita tak juga sadar akan hal itu? Kita belajar hanya kalau disuruh, begitu pula dengan ibadah. Padahal, bila kita rajin, yang akan merasakan manfaatnya ya kita juga.

Ibu dan ayah sering memilih diam saat kita mulai emosi pada mereka. Kita kira mereka tak sakit hati. Kita kira mereka tak terganggu. Padahal itu menambah beban pikiran mereka.

Setelah yang selama ini mereka berikan pada kita, apa yang sudah kita berikan pada mereka sebagai ucapan terima kasih?
Ucapan kasar, cacian, makian, pembantahan terhadap permintaan mereka, penolakan pada perintah mereka, pembangkangan pada kepercayaan yang mereka beri, ketidakacuhan pada nasehat yang tak bosan-bosan mereka lontarkan, kegagalan dalam meraih harapan mereka tentang kita, menjadi sumber utama beban pikiran mereka, merecoki mereka dengan berbagai masalah yang seharusnya bisa kita selesaikan sendiri.

Apa itu bentuk terima kasih kita?

Minta maaflah pada mereka, bertobatlah pada Tuhan Yang Maha Pengampun. Dan berubah jadi jauh lebih baik. Sayangi mereka seperti mereka menyayangi kita, itu minimalnya, harusnya kita menyayangi mereka lebih.
Coba tawarkan diri kita jadi pendengar dan pencari solusi yang baik untuk masalah mereka. Jangan menambah lagi beban dan masalah mereka. Bantu mereka setiap ada kesempatan, walaupun hal itu sepele. Jaga volume dan intonasi suara saat bicara dengan mereka, juga pandangan. Pilih bahasa santun yang bisa menyenangkan dan menentramkan mereka. Jangan menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tak penting apalagi bila mereka tidak mengizinkan. Buat mereka bangga mempunyai anak seperti kita. Rajin belajar, supaya nilai bagus dan hasil maksimal sehingga bisa meraih ranking sekolah di sekolah favorit. Memenangkan berbagai lomba. Dan nantinya kuliah di universitas favorit, bukan jurusan asal-asalan. Sehingga mudah mencari kerja yang enak dengan gaji besar. Jadi bisa membahagiakan mereka baik secara jasmani maupun rohani.
Tentunya, jangan lupa mendoakan agar mereka bahagia dunia akhirat juga supaya insyaallah dapat bertemu lagi di Surga. Amin amin amin amin yaa rabbal alamin....

0 komentar:

Posting Komentar

About